Perkembangan Organisasi Papua Merdeka (OPM) Sejak Runtuhnya Rezim Orde Lama



Perkembangan Organisasi Papua Merdeka (OPM) ternyata tidak lepas dari respon atas kepemimpinan Indonesia yang pada masa itu berada di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno. Sistem kebijakan yang berorientasi pada leadership atau yang juga dikenal dengan demokrasi terpimpin. Secara etimologi orde lama adalah sebutan bagi periode pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno yang berlangsung pada tahun 1945 sampai tahun 1968. Pada periode ini, Presiden Soekarno berlaku sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan. Pada masa orde lama, sistem pemerintahan di Indonesia mengalami  beberapa peralihan. Indonesia pernah menerapkan sistem pemerintahan presidensial, parlementer, demokrasi liberal, dan sistem pemerintahan demokrasi terpimpin. Berikut penjelasan sistem pemerintahan masa Soekarno.

Perkembangan OPM berawal ketika organisasi ini merasa bahwa mereka tidak memiliki hubungan sejarah dengan bagian Indonesia yang lain maupun negara-negara Asia lainnya. Penyatuan wilayah ini ke dalam NKRI sejak tahun 1969 merupakan buah perjanjian antara Belanda dengan Indonesia dimana pihak Belanda menyerahkan wilayah tersebut yang selama ini dikuasainya kepada bekas jajahannya yang merdeka, Indonesia. Perjanjian tersebut oleh OPM dianggap 
sebagai penyerahan dari tangan satu penjajah kepada yang lain.

Pada masa orde lama, perkembangan OPM ternyata menunjukkan dinamika yang menarik. Pada periode 1960-1969 ternyata jumlah anggota OPM memiliki perkembangan yang relatif pesat yang dapat dilihat sebagai 
berikut :
  • 1960-1961 Perkiraaan Jumlah Personel  OPM 2.880 jiwa
  • 1962-1963 Perkiraaan Jumlah Personel OPM 2.840 jiwa
  • 1964-1965 Perkiraaan Jumlah Personel OPM 2.980 jiwa
  • 1966-1967 Perkiraaan Jumlah Personel OPM 2.820 jiwa
  • 1968-1969 Perkiraaan Jumlah Personel OPM 2.820 jiwa

Sumber : Diolah dari Bilver Singh, 2011, Papua Geo-Politics and the Quest for Nationhood, London and New Burnswick, : Transaction Publishing.

Pada era orde lama dapat disimpulkan bahwa jumlah personel OPM diperkirakan mengalami peningkatan. Meskipun jika dilihat dari jumlah personel ini sangat jauh tidak sebanding dengan kekuatan angkatan bersenjata Indonesia, baik ditinjau dari sumber daya manusia ataupun kekuatan persenjuataan, namun topografi wilayah yang luas dan di dominasi oleh hutan tropis menyababkan sulitnya penanganan pemberontakan OPM.

Pada masa kepemimpinan Soekarno, OPM juga tidak dapat berkembang secara efektif menjadi kelompok penekan pemerintah karenapemerintah Indonesia pada masa itu juga memberikan perlawanan secara kuat. Beberapa diantaranya diwujudkan melalui beberapa tindakan militer diantaranya :

  1. Pengiriman pasukan militer Indonesia untuk melawan milisi sporadis OPM dan tentara pro-Belanda pada tanggal 15 Agustus 1962.
  2. Pengeboman udara menggunakan pesawat TNI Angkatan Udara di wilayah yang diperkirakan menjadi basis OPM, yaitu Pegunbungan Arfak yang juga merupakan titik tertinggi di wilayah Papua Barat pada tahun 1966 hingga 1967.
  3. Pengeboman udara menggunakan pesawat TNI Angkatan Udara di wilayah yang diperkirakan menjadi basis OPM, yaitu Pegunungan Ayamaru dan Teminabuan pada bulan Januari hingga Maret 1967.
  4. Penerapan Operasi Tumpas pada tahun 1967 yang dijalankan oleh pasukan gaubungan TNI Angkatan Darat di tiga wilayah di Papua, masing-masing Ayamaru, Teminabuan dan Inuyatan. 
  5. Pengeboman udara menggunakan pesawat TNI Angkatan Udara di wilayah yang diperkirakan menjadi basis OPM, yaitu wilayah sekitar Danau Wissei (Daerah Paniai dan Erotali) pada bulan April 1969

Comments